Mencari menu buka puasa unik di Pangandaran? Cobalah Sate Toe, sajian istimewa dari Rumah Makan Buncila di Kalipucang.
Sate Toe: Kelezatan Kerang Sungai di Balik Bumbu Kuning
Sate Toe terbuat dari daging kerang sungai (toe) yang diolah dengan bumbu rempah kuning khas. Teksturnya lembut dan gurih, sangat cocok disantap bersama nasi putih.
Proses pembuatannya diawali dengan pemilihan kerang sungai segar. Kerang direbus hingga empuk sebelum dibumbui dan ditumis agar bumbu meresap sempurna.
Rahasia Kelembutan Sate Toe
Rahasia kelembutan Sate Toe terletak pada proses perebusan selama satu jam. Proses ini memastikan daging kerang empuk dan tidak alot, berbeda dengan persepsi umum tentang kerang sungai.
Bumbu kuning yang kaya rempah-rempah seperti kunyit, bawang, dan cabai merah menambah cita rasa gurih dan sedap. Kombinasi ini menghasilkan citarasa yang unik dan menggugah selera.
Rumah Makan Buncila: Destinasi Kuliner Buka Puasa di Pangandaran
Rumah Makan Buncila menjadi tempat favorit untuk menikmati Sate Toe. Tempat ini ramai dikunjungi warga Pangandaran dan sekitarnya, bahkan hingga dari Cilacap.
Pemilik rumah makan, Wida Widiyati, mengatakan Sate Toe merupakan hidangan asli Kalipucang. Ia juga menambahkan menu lainnya seperti Daging Entok untuk melengkapi pilihan berbuka puasa.
Respon Positif Pelanggan
Undang Kurniawan, salah satu pelanggan, mengaku terkesan dengan kelembutan dan rasa gurih Sate Toe. Ia bahkan menyatakan harganya yang terjangkau.
Rumah Makan Buncila mampu menjual hingga 200-500 tusuk Sate Toe setiap harinya, menunjukkan tingginya permintaan menu unik ini selama bulan Ramadhan.
Sate Toe: Menu Buka Puasa yang Terjangkau dan Menggoda
Dengan harga Rp3.000 per tusuk, Sate Toe menjadi pilihan berbuka puasa yang ekonomis. Rasa yang lezat dan unik menjadi daya tarik tersendiri.
Menu ini bukan hanya sekadar hidangan buka puasa, tetapi juga representasi kuliner khas Kalipucang, Pangandaran. Sate Toe patut dicoba saat berkunjung ke Pangandaran.
Kepopuleran Sate Toe di Rumah Makan Buncila membuktikan daya tarik kuliner tradisional yang diolah dengan cita rasa modern. Keberhasilannya mempertahankan cita rasa otentik Kalipucang sekaligus menarik minat wisatawan menjadikannya sebagai contoh keberhasilan usaha kuliner berbasis kearifan lokal.





