Setelah 24 tahun mengarungi kerasnya lapangan hijau, Maman Abdurahman, bek veteran kebanggaan sepak bola Indonesia, resmi gantung sepatu. Pengumuman tersebut disampaikannya pada Rabu melalui akun Instagram pribadinya, menandai berakhirnya perjalanan karier cemerlang seorang legenda.
Pada usia 43 tahun, keputusan ini bukanlah hal mudah. Namun, Maman menyatakan rasa syukur dan kebanggaannya atas perjalanan karier yang telah dilaluinya, penuh dengan suka dan duka di lapangan sepak bola Indonesia.
Karier Mapan di Sepak Bola Nasional
Maman memulai kiprah profesionalnya pada musim 1996-1998 bersama PS PAM Jaya. Ia kemudian memperkuat beberapa klub ternama di Indonesia.
Persijatim (1998-2000) menjadi klub berikutnya yang dibelanya, sebelum akhirnya memulai karier seniornya di Persijatim Solo pada 2001.
Selama tiga musim di Persijatim Solo, Maman mencatatkan 13 penampilan dan 3 gol. Catatan yang cukup baik untuk seorang pemain muda.
PSIS Semarang (2005-2008) menjadi destinasi berikutnya dalam perjalanan kariernya. Di klub berjuluk Mahesa Jenar ini, Maman mencetak 1 gol dari 34 penampilan.
Persib Bandung (2008), Sriwijaya FC (2013), dan Persita Tangerang (2014) juga pernah merasakan sentuhan magis sang bek veteran.
Puncak karier Maman dilewati bersama Persija Jakarta, klub yang dibelanya sejak 2015. Di Persija, ia menjadi pilar penting, tampil lebih dari 150 laga.
Kontribusi besarnya bagi Persija berbuah manis dengan gelar juara Liga 1 2018 dan Piala Presiden. Prestasi yang membanggakan dan tak terlupakan.
PSPS Pekanbaru menjadi klub terakhir yang dibelanya di Liga 2 pada tahun 2024, sebelum akhirnya memutuskan untuk pensiun.
Momen Istimewa Bersama Putra Tercinta
Salah satu momen paling berkesan dalam karier Maman adalah bermain bersama putranya, Rafa Raditya Abdurahman, dalam laga terakhir musim 2023/24 Liga 1.
Pertandingan Persija Jakarta melawan PSIS Semarang pada 30 April 2024 menjadi panggung bagi momen haru tersebut. Sebuah penutup karier yang manis dan tak tergantikan.
Momen tersebut menjadi bukti nyata dedikasi Maman dalam dunia sepak bola, yang diteruskan hingga ke generasi berikutnya.
Pengabdian di Tim Nasional
Tak hanya berkiprah di level klub, Maman juga memperkuat Tim Nasional Indonesia senior.
Debutnya di timnas terjadi pada Brunei Merdeka Games 2006 melawan Malaysia, yang berakhir imbang 1-1.
Maman juga berpartisipasi dalam Piala Asia 2007, tampil dalam tiga pertandingan di Grup D.
Kontribusi Maman dalam kemenangan 2-1 atas Bahrain menjadi catatan penting dalam perjalanan Timnas Indonesia di turnamen tersebut.
Sepanjang kariernya, Maman telah mencatatkan 29 penampilan membela Tim Nasional Indonesia. Sebuah angka yang menunjukkan dedikasi dan patriotisme tinggi.
Pencapaiannya di level internasional semakin memperkuat jejaknya sebagai legenda sepak bola Indonesia.
Perpisahan Maman Abdurahman dari dunia sepak bola profesional bukan hanya kehilangan bagi dunia sepak bola Indonesia, tetapi juga sebuah penutupan babak yang inspiratif bagi generasi pemain muda. Dedikasi, keuletan, dan semangat juangnya akan selalu dikenang.





