Pasangan ganda campuran Indonesia, Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari, harus mengakui keunggulan pasangan unggulan pertama asal China, Jiang Zhen Bang/Wei Ya Xin, di perempat final Badminton Asia Championships 2025.
Kekalahan dengan skor 4-21, 15-21 ini menjadi kekalahan kelima mereka secara beruntun atas pasangan China tersebut. Satu-satunya game yang mampu direbut Rinov/Pitha adalah di Denmark Open 2024.
Rinov/Pitha Akui Inkonsistensi Jadi Kendala Utama
Pitha Haningtyas Mentari mengungkapkan kekecewaan atas hasil tersebut. Ia berharap dapat meraih hasil yang lebih baik dibandingkan pertemuan sebelumnya di Denmark Open.
Pertandingan yang berlangsung selama 35 menit itu diwarnai dominasi Jiang/Wei, terutama di game pertama. Pitha mengakui penampilannya jauh dari standar yang diharapkan.
Rinov Rivaldy menambahkan bahwa inkonsistensi penampilan menjadi masalah utama yang terus menghantui mereka. Kesalahan-kesalahan sendiri juga seringkali menjadi faktor penentu kekalahan.
Inkonsistensi dan Kesalahan Sendiri
Mereka menilai sebenarnya mampu mengimbangi permainan lawan. Namun, konsistensi dan minimnya kesalahan sendiri menjadi hal yang harus terus ditingkatkan.
Rinov dan Pitha berharap ke depan dapat lebih fokus dan memperbaiki kekurangan mereka agar mampu bersaing dengan pasangan-pasangan unggulan dunia.
Harapan Indonesia Tertuju pada Jafar/Felisha
Dengan tersingkirnya Rinov/Pitha, harapan medali emas Indonesia di ganda campuran Badminton Asia Championships 2025 kini bergantung pada Jafar Hidayatullah/Felisha Pasaribu.
Pasangan Jafar/Felisha telah berhasil melaju ke semifinal dan akan berjuang untuk mengharumkan nama Indonesia.
Sejarah Kekeringan Gelar di Asia Championships
Indonesia terakhir kali meraih gelar juara ganda campuran di Badminton Asia Championships pada tahun 2015 lewat pasangan legendaris Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.
Sejak saat itu, belum ada pasangan ganda campuran Indonesia yang mampu menyamai prestasi tersebut. Tantangan besar masih menanti para pebulutangkis Indonesia untuk kembali berjaya di ajang bergengsi ini.
Analisa dan Harapan ke Depan
Kekalahan ini menjadi pelajaran berharga bagi Rinov/Pitha untuk meningkatkan konsistensi dan mengurangi kesalahan-kesalahan sendiri.
Pelatih dan tim kepelatihan diharapkan dapat memberikan program latihan yang lebih intensif dan terarah untuk mengatasi kelemahan tersebut. Dukungan penuh dari seluruh pihak menjadi kunci keberhasilan bagi para atlet Indonesia.
Meskipun peluang emas di ganda campuran masih terbuka lewat Jafar/Felisha, kekalahan Rinov/Pitha menyoroti perlunya peningkatan kualitas dan konsistensi secara menyeluruh di sektor ganda campuran Indonesia. Persiapan yang matang dan strategi yang tepat sangat penting untuk menghadapi kompetisi internasional selanjutnya.





