Presiden Prabowo Subianto mengusulkan pelonggaran aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Langkah ini menuai kritik dari para pengamat.
Potensi Dampak Negatif Pelonggaran TKDN terhadap Industri Otomotif
Pelonggaran TKDN dikhawatirkan akan meningkatkan impor komponen dan suku cadang. Hal ini dapat melemahkan industri manufaktur dalam negeri, khususnya otomotif.
Yannes Pasaribu, pengamat otomotif senior ITB, mengungkapkan kekhawatirannya. Ia menilai fleksibilitas TKDN berisiko meningkatkan ketergantungan impor jika tidak dikelola secara strategis.
Meskipun dapat menurunkan biaya produksi dan menarik investasi asing, potensi kerugiannya besar. Industri lokal kecil dan menengah (UKM) terancam gulung tikar, menyebabkan pemutusan hubungan kerja (PHK).
Ancaman bagi Industri Lokal
Industri otomotif besar mungkin akan memanfaatkan impor komponen murah dari luar negeri. Ini akan meningkatkan daya saing ekspor mereka, namun mengorbankan industri lokal.
Tanpa riset dan pengembangan (RnD) serta kemitraan yang wajib, lapangan kerja akan berkurang. Indonesia berisiko hanya menjadi konsumen produk impor.
Aturan TKDN yang Ada Saat Ini
Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) Nomor 29 Tahun 2017 mengatur tiga opsi investasi untuk pemenuhan TKDN. Opsi tersebut meliputi skema manufaktur, aplikasi, dan inovasi.
Aturan TKDN diterapkan di berbagai sektor, termasuk otomotif. Tujuannya untuk meningkatkan konten dalam negeri dalam proses produksi.
Target TKDN Kendaraan Bermotor
Untuk kendaraan roda empat, target TKDN bertahap diterapkan. Mulai dari 35% pada 2019-2021, hingga 80% pada 2030.
Sementara untuk kendaraan roda dua, target TKDN minimum 40% pada 2019-2023 dan 80% pada 2030. Prabowo sendiri mengakui regulasi saat ini belum cukup efektif.
Pernyataan Presiden Prabowo Subianto
Prabowo berpendapat bahwa aturan TKDN yang terlalu ketat mengurangi daya saing Indonesia. Ia meminta agar aturan TKDN dibuat lebih realistis.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam Sarasehan Ekonomi di Menara Mandiri. Ia menekankan perlunya keseimbangan antara peningkatan TKDN dan daya saing industri.
Kesimpulan dan Rekomendasi
Pelonggaran TKDN perlu dikaji secara cermat. Pemerintah perlu merumuskan strategi yang tepat untuk menyeimbangkan peningkatan TKDN dan daya saing industri.
Perlu dipertimbangkan dampaknya terhadap industri lokal, khususnya UKM. Program pembinaan dan pendampingan bagi UKM sangat penting untuk mengurangi potensi PHK.
Penting juga untuk mendorong inovasi dan riset dalam negeri. Hal ini akan meningkatkan kemampuan industri lokal bersaing dengan produk impor.
Dengan perencanaan yang matang dan strategi yang tepat, pelonggaran TKDN dapat menjadi peluang. Namun, tanpa antisipasi yang cermat, potensi kerugiannya sangat besar bagi perekonomian nasional.





