Liburan Lebaran tahun ini menunjukan tren unik: meningkatnya penggunaan mobil pikap sebagai kendaraan wisata keluarga. Praktis dan dinilai lebih hemat, kenyataannya praktik ini menyimpan risiko keselamatan dan melanggar aturan lalu lintas.
Banyak keluarga besar memilih pikap karena kapasitasnya yang besar, mampu mengangkut seluruh anggota keluarga sekaligus. Hal ini diungkapkan oleh Wahyudi (36), wisatawan asal Bogor yang menggunakan pikap untuk berwisata ke Citepus bersama keluarganya.
Alasan serupa juga disampaikan Hendra, wisatawan asal Bandung. Ia menyewa pikap untuk liburan ke Lembang karena lebih murah dan mampu menampung banyak orang.
Tren Wisata Keluarga Naik Pikap: Praktis Namun Berisiko
Kemudahan dan penghematan biaya menjadi daya tarik utama penggunaan pikap untuk wisata keluarga. Namun, faktor keamanan dan keselamatan seringkali diabaikan.
Mengangkut banyak penumpang di bak terbuka tanpa pengaman jelas sangat berbahaya. Risiko kecelakaan dan cedera serius bagi penumpang sangat tinggi.
Aspek Hukum Penggunaan Pikap untuk Angkutan Wisata
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Pasal 137 ayat (4) secara tegas melarang penggunaan mobil barang untuk mengangkut orang, kecuali dalam kondisi tertentu.
Kondisi Pengecualian Penggunaan Pikap untuk Angkut Orang
Pengecualian hanya berlaku jika rasio kendaraan angkutan orang belum memadai, untuk kepentingan TNI/Polri, atau kepentingan lain yang mendapat pertimbangan dari kepolisian dan pemerintah daerah.
Sanksi Pelanggaran
Pelanggaran terhadap aturan ini dapat dikenakan sanksi pidana kurungan maksimal satu bulan atau denda Rp250.000.
Pakar Keselamatan Berbicara: Bahaya Tersembunyi di Balik Praktisnya
Sony Susmana, Director Training Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), menekankan bahaya penggunaan pikap untuk angkutan penumpang.
Menurutnya, anggapan “dekat, tidak ngebut, dan hemat” tidak bisa membenarkan tindakan yang melanggar aturan keselamatan. Kecelakaan dapat menyebabkan penumpang terpental dan mengalami cedera parah.
Kesimpulannya, meski terlihat praktis dan ekonomis, menggunakan mobil pikap untuk angkutan wisata keluarga menyimpan risiko keselamatan yang signifikan dan melanggar hukum. Keselamatan penumpang harus diprioritaskan di atas pertimbangan biaya dan kenyamanan. Penting bagi masyarakat untuk memahami dan mematuhi peraturan lalu lintas demi keselamatan bersama.





