Setahun setelah peluncurannya pada Februari 2024, headset mixed-reality Apple Vision Pro menuai penyesalan dari beberapa pengguna awal. Perangkat seharga USD 3.499 (Rp 57,7 jutaan) ini ternyata tidak sesuai ekspektasi sebagian konsumen, terutama terkait kenyamanan, dukungan perangkat lunak, dan kemudahan penggunaan.
Berbagai keluhan muncul dari pengguna yang diwawancarai Wall Street Journal. Banyak yang merasa investasi besar mereka tidak sebanding dengan pengalaman yang didapat.
Pengalaman Tak Nyaman dan Berat
Salah satu pengguna, Dustin Fox, agen perumahan di Virginia, Amerika Serikat, mengaku headset Vision Pro-nya kini tersimpan begitu saja.
Ia hanya menggunakannya empat kali sejak pembelian dan menyatakan perangkat tersebut terlalu berat dan tidak nyaman digunakan dalam waktu lama. Nyeri leher menjadi kendala utama.
Fox awalnya tertarik karena tergiur dengan fitur unik dan potensi peningkatan produktivitas yang dijanjikan. Namun, kenyamanan yang kurang membuat kegunaannya terbatas.
Ia bahkan mempertimbangkan untuk menjualnya kembali, namun harga jual kembali yang jauh lebih rendah dari harga beli membuatnya urung melakukannya.
Kekurangan Perangkat Lunak dan Kompleksitas Penggunaan
Pengguna lain, Tovia Goldstein, mengungkapkan pengalaman menonton konten di Vision Pro kurang optimal. Selain masalah kenyamanan, ia juga menyoroti terbatasnya jumlah aplikasi yang tersedia.
Proses penambahan aplikasi baru pun dianggapnya rumit. Goldstein harus menghubungkan baterai eksternal dan menunggu beberapa menit sebelum perangkat siap digunakan.
Ia memberikan saran yang cukup tegas: “Saya tidak menyarankan siapa pun membeli ini, kecuali Anda benar-benar kaya dan tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan uang yang banyak.”
Pengalaman Negatif dan Keputusan Menjual Kembali
Anthony Racaniello, pengguna Vision Pro dari Philadelphia, mencoba menggunakan headset tersebut di kantor dan di pesawat.
Namun, pengalamannya justru berujung pada rasa terasingkan. Ia bahkan diabaikan pramugari karena dianggap sedang tidur.
Racaniello akhirnya menjual headset-nya seharga USD 1.900, 46% lebih murah daripada harga beli. Ia mengaku tidak menyesal atas keputusannya dan tidak merindukan perangkat tersebut.
Meskipun mengakui potensi Vision Pro sebagai gambaran teknologi masa depan, Racaniello menekankan perangkat ini masih jauh dari sempurna dan terlalu merepotkan untuk digunakan sehari-hari.
Secara keseluruhan, testimoni pengguna awal Apple Vision Pro menunjukkan bahwa perangkat ini, meskipun inovatif, masih memiliki kekurangan signifikan dalam hal kenyamanan, kemudahan penggunaan, dan dukungan aplikasi. Harga yang sangat tinggi juga menjadi faktor yang membuat beberapa pengguna merasa kecewa dengan investasi mereka. Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagi Apple untuk terus meningkatkan produknya agar sesuai dengan ekspektasi konsumen dan harga yang dibanderol.





