KEK Singhasari Mandek 3 Tahun: Protes Warga, Nasibnya?

KEK Singhasari Mandek 3 Tahun: Protes Warga, Nasibnya?
KEK Singhasari Mandek 3 Tahun: Protes Warga, Nasibnya?

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singhasari di Malang, Jawa Timur, yang diresmikan pada September 2019, menuai kontroversi. Tiga tahun pasca peresmian, proyek yang bertujuan menjadi pusat ekonomi kreatif dan teknologi berbasis wisata sejarah ini justru diprotes warga sekitar.

Kekecewaan warga terlihat dari sejumlah spanduk penolakan yang bertebaran di akses menuju KEK. Mereka merasa pembangunan KEK Singhasari stagnan dan belum memberikan dampak positif bagi masyarakat setempat.

Bacaan Lainnya

KEK Singhasari: Janji dan Kenyataan

KEK Singhasari dirancang sebagai KEK pertama di Indonesia yang fokus pada pengembangan teknologi terintegrasi dengan pariwisata berbasis sejarah.

Pemerintah berharap KEK ini mampu menarik investasi, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Namun, harapan tersebut belum terwujud bagi warga sekitar.

Potensi dan Lokasi Strategis KEK Singhasari

KEK Singhasari memiliki lokasi yang strategis di kaki Gunung Arjuna, Malang.

Aksesibilitasnya mudah, terhubung dengan ruas tol Pandaan-Malang, dekat Jalan Nasional Gempol-Malang, dan dekat dengan berbagai moda transportasi seperti Stasiun Kota Malang, Bandara Abdul Rachman Saleh, Bandara Juanda Surabaya, dan Pelabuhan Tanjung Perak.

Luas area mencapai 120,3 hektare, dibangun di atas situs bersejarah Kerajaan Singhasari, menawarkan potensi wisata sejarah dan teknologi digital.

Rencananya, KEK ini akan menjadi ekosistem digital terintegrasi pertama di Indonesia yang menggabungkan wisata alam, sejarah, inovasi teknologi digital, multimedia, animasi, dan game development.

Kekecewaan Warga Terhadap KEK Singhasari

Proyek yang digadang-gadang sebagai mesin penggerak ekonomi ini justru menimbulkan protes dari warga Desa Klampok, Kecamatan Singosari.

Belasan spanduk protes bermunculan, mengekspresikan kekecewaan warga atas minimnya manfaat yang dirasakan selama tiga tahun terakhir.

Salah satu spanduk bertuliskan, “Wis 3 tahun mlaku ganok manfaate gae warga Singosari. Pak Presiden Prabowo, tulung bubarno ae wis KEK iki!” (Sudah 3 tahun berjalan tidak ada manfaatnya bagi warga Singosari. Pak Presiden Prabowo, tolong bubarkan saja KEK ini!).

Kritik dan Tuntutan Warga

Ki Ardhi Purbo Antono, tokoh budaya setempat, mengungkapkan bahwa protes tersebut merupakan puncak dari kekecewaan yang telah lama ditahan.

Ia menilai, KEK Singhasari dirancang dan dijalankan tanpa melibatkan warga dan mempertimbangkan kearifan lokal.

Ki Ardhi menambahkan, kehadiran KEK tidak sejalan dengan nilai sejarah dan budaya Singosari sebagai tanah sakral. Ia juga menyoroti adanya dugaan keterlibatan makelar intelektual yang berujung pada ketidakjelasan dan kerugian bagi masyarakat.

Kekecewaan warga terhadap KEK Singhasari menjadi sorotan penting. Keberhasilan sebuah proyek pembangunan tidak hanya diukur dari segi infrastruktur, tetapi juga dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat sekitar. Pemerintah perlu mengevaluasi pelaksanaan proyek ini dan melibatkan masyarakat secara aktif untuk memastikan KEK Singhasari benar-benar memberikan manfaat bagi semua pihak.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *