Okupansi hotel berbintang di Indonesia masih terbilang rendah di awal tahun 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat penghunian kamar (TPK) pada Januari 2025 hanya mencapai 48,38%.
Angka tersebut menunjukkan penurunan 9,68% dibandingkan bulan Desember 2024. Namun, jika dibandingkan dengan Januari 2024, terjadi peningkatan sebesar 1,66%.
Penurunan Okupansi Hotel di Indonesia
Tren penurunan okupansi berlanjut hingga Februari 2025. TPK pada bulan tersebut tercatat sebesar 47,21%, mengalami penurunan 1,17% dari bulan sebelumnya dan 2,24% dari Februari 2024.
Dari 38 provinsi di Indonesia, 20 provinsi mencatat penurunan TPK pada Januari-Februari 2025. Sebanyak 18 provinsi lainnya justru mengalami peningkatan okupansi hotel berbintang.
Okupansi Tertinggi di Jakarta
Provinsi DKI Jakarta mencatatkan TPK tertinggi pada Februari 2025, yaitu 59,07%. Hal ini dipicu oleh banyaknya acara, seperti konser dan pameran, yang diselenggarakan di Jakarta sepanjang bulan tersebut.
Dampak Penurunan Okupansi di Bali
Penurunan okupansi hotel juga terjadi di Bali, yang berdampak signifikan pada perekonomian daerah. Kepala BPS Provinsi Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan, memprediksi efek domino yang besar, mengingat pariwisata menjadi motor penggerak utama ekonomi Bali.
Dampaknya meluas ke sektor akomodasi dan konsumsi, bahkan berpotensi memengaruhi ketenagakerjaan. Pihak BPS berharap tren penurunan ini hanya sementara dan akan kembali meningkat pada musim ramai wisatawan.
Lama Menginap Tamu Hotel
Rata-rata lama menginap tamu hotel berbintang di Indonesia pada Februari 2025 adalah 1,58 malam. Angka ini turun 0,04 poin dibandingkan Februari 2024, namun naik 0,01 poin dibandingkan Januari 2025.
Menariknya, rata-rata lama menginap tamu asing cenderung lebih tinggi daripada tamu domestik. Pada Januari 2025, tamu asing rata-rata menginap 2,62 malam, sedangkan tamu Indonesia 1,46 malam.
Tren ini berlanjut pada Februari 2025, dengan rata-rata lama menginap tamu asing sebesar 2,37 malam dan tamu Indonesia 1,49 malam. Perbedaan ini mencerminkan perbedaan tujuan dan durasi perjalanan wisatawan asing dan domestik.
Secara keseluruhan, data BPS menunjukkan fluktuasi okupansi hotel berbintang di Indonesia pada awal tahun 2025. Meskipun terdapat penurunan di beberapa wilayah, beberapa daerah lain justru mengalami peningkatan. Perlu dilakukan analisis lebih lanjut untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi fluktuasi ini dan merumuskan strategi untuk meningkatkan okupansi hotel di masa mendatang. Pemerintah dan pelaku industri pariwisata perlu bekerja sama untuk mengatasi tantangan ini dan memastikan keberlanjutan sektor pariwisata Indonesia.





