Desa Wisata Penglipuran di Bangli, Bali, menjadi destinasi favorit wisatawan domestik selama libur Lebaran 2025. Sejak 31 Maret hingga 5 April, tercatat 35.742 wisatawan lokal telah mengunjungi desa tersebut.
Pengunjung Mengalir ke Penglipuran
Ketua Pengelola Desa Wisata Penglipuran, I Wayan Sumiarsa, mengungkapkan tingginya minat kunjungan. Pihaknya menargetkan kedatangan 3.000 hingga 4.000 wisatawan domestik setiap harinya.
Puncak kunjungan terjadi pada H+3 Lebaran, dengan jumlah mencapai 7.500 orang. Hal ini juga berdampak positif pada peningkatan okupansi homestay di sekitar Penglipuran.
Homestay dan Aktivitas Desa
Banyak wisatawan memilih menginap untuk merasakan suasana pedesaan di malam dan pagi hari. Mereka dapat menyaksikan aktivitas warga dan menikmati keramahan masyarakat setempat.
Tersedia berbagai penginapan milik warga, termasuk kamar eksklusif. Pengunjung bahkan dapat menyewa pakaian adat dan merasakan kehidupan di desa secara langsung.
Atraksi dan Paket Wisata
Selain keindahan alam dan kearifan lokal, atraksi barong macan menjadi daya tarik tambahan selama libur Lebaran. Pengelola berencana menyiapkan paket wisata baru menjelang Hari Raya Galungan.
Paket menginap dan early visit telah disiapkan untuk memberikan pilihan bagi wisatawan. Pengelola berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan dan pengalaman wisata di Penglipuran.
Keunikan Desa Penglipuran
Desa Penglipuran terletak di dataran tinggi, sekitar 600 meter di atas permukaan laut. Desa ini membentang sekitar 1 km dengan jalan selebar 4 meter.
Nama “Penglipuran” berasal dari kata “pengeling” (ingat) dan “pura” (tempat leluhur), berarti “ingat kepada tanah leluhur”. Desa ini dikenal sebagai desa adat terbersih nomor 3 di dunia versi UNESCO.
Sistem tata ruang “Tri Mandala” yang terdiri dari Utama Mandala (suci), Madya Mandala (tempat tinggal), dan Nista Mandala (pemakaman) menjadi ciri khasnya. Kebersihan dan sistem sanitasi yang baik menjadi bukti komitmen warga terhadap pelestarian lingkungan.
Desa ini juga aktif melaksanakan beragam upacara adat dan agama, seperti Upacara Ngusaba Paruman setiap purnama kapat. Upacara ini merupakan persembahan kepada Dewa Brahma dan Dewa Wisnu.
Potensi Wisata Berkelanjutan
Dengan keindahan alam, kearifan lokal, dan pengelolaan yang baik, Desa Wisata Penglipuran memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi wisata berkelanjutan. Tingginya minat wisatawan domestik menunjukan daya tarik desa ini bagi para pelancong.
Keberhasilan Penglipuran dalam mengelola pariwisata sekaligus menjaga kelestarian budaya dan lingkungan menjadi contoh yang baik bagi desa wisata lainnya di Indonesia. Inovasi paket wisata dan peningkatan kualitas layanan akan semakin memperkuat daya saing Penglipuran.
Dengan manajemen yang baik dan komitmen warga, Desa Penglipuran diharapkan dapat terus berkembang sebagai destinasi wisata yang unggul, sekaligus tetap melestarikan budaya dan lingkungannya.





