Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana melihat sektor pariwisata sebagai benteng ekonomi nasional menghadapi tekanan eksternal, khususnya dampak tarif impor dari Amerika Serikat (AS).
Kebijakan tarif timbal balik Presiden AS Donald Trump, yang mencapai 32 persen untuk produk Indonesia, mendorong Menpar untuk mengedepankan pariwisata sebagai sumber devisa yang tak terpengaruh hambatan perdagangan.
Pariwisata: Ekspor Jasa yang Tahan Tekanan
Indonesia memiliki potensi pariwisata yang luar biasa, berkat kekayaan alam, budaya, dan kreativitas masyarakatnya.
Namun, persebaran 13,9 juta wisatawan mancanegara saat ini masih terpusat di beberapa destinasi.
Pemerintah mendorong pengembangan pariwisata di seluruh daerah untuk memanfaatkan dinamika global dan menarik lebih banyak wisatawan.
Kesiapan destinasi, produk wisata, SDM, dan promosi terintegrasi menjadi kunci.
Kemenpar optimistis langkah ini akan menghasilkan devisa tinggi dan menjadi penyeimbang ekspor barang yang terdampak tarif.
Strategi Mengoptimalkan Pariwisata
Menpar Widiyanti menjabarkan tiga strategi utama untuk menghadapi dinamika perdagangan global.
Pertama, memaksimalkan potensi pariwisata sebagai ekspor jasa penyeimbang. Kedua, mengoptimalkan UMKM dan ekonomi lokal penyedia jasa pariwisata.
Ketiga, fokus pada pengembangan *high-quality tourism* dengan pengalaman wisata berkualitas tinggi yang menarik wisatawan berdaya beli tinggi.
Pengembangan Desa Wisata dan UMKM
Potensi pariwisata Indonesia tak hanya terletak di destinasi besar, tetapi juga di desa-desa.
Kemenpar aktif mengembangkan desa wisata dan mendorong ekonomi berbasis pariwisata di seluruh Indonesia.
Tujuannya adalah untuk mendistribusikan manfaat ekonomi secara merata dan mengurangi ketergantungan pada sektor manufaktur.
Pariwisata Berkualitas Tinggi
Kemenpar mendorong pelaku usaha pariwisata untuk fokus pada kualitas, bukan hanya jumlah kunjungan.
Wisatawan yang bersedia mengeluarkan biaya lebih untuk pengalaman berkualitas lebih tahan terhadap fluktuasi harga global.
Program “Pariwisata Naik Kelas”, yang fokus pada sektor maritim, gastronomi, dan *wellness*, mendukung strategi ini.
Tantangan dan Harapan
Meskipun memiliki potensi besar, pariwisata Indonesia masih memiliki tantangan.
Berdasarkan Travel and Tourism Development Index (TTDI) WEF 2024, Indonesia berada di peringkat ke-22 global dan ke-2 di ASEAN, di bawah Singapura.
Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pun masih di bawah Thailand yang mencapai 35,5 juta pada tahun lalu.
Situasi ini diperparah dengan tagar #kaburajadulu dan #indonesiagelap yang menunjukkan kekecewaan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah.
Namun, dengan strategi yang tepat dan komitmen semua pihak, pariwisata Indonesia berpotensi menjadi penopang utama ekonomi nasional dan destinasi unggulan dunia.
Pengembangan yang berkelanjutan dan inklusif, serta responsif terhadap sentimen publik, akan menentukan keberhasilan upaya ini.





