Lebaran di Malioboro: Ramai Wisatawan, Andong Sepi? Ini Alasannya!

Lebaran tahun ini menyimpan cerita getir bagi para kusir andong di Malioboro, Yogyakarta. Meskipun wisatawan membanjiri kawasan tersebut, pendapatan mereka justru anjlok drastis.

Sepinya Penumpang Andong di Malioboro

Aan, seorang kusir andong dari Bantul, mengungkapkan kekecewaannya. Meskipun banyak wisatawan, jumlah penumpang andongnya sangat terbatas.

Bacaan Lainnya

Ia membandingkan dengan Lebaran tahun lalu, di mana ia bisa mendapatkan hingga lima orderan. Tahun ini, ia hanya mendapatkan sedikit penumpang.

Bahkan pada hari ini, Aan hanya mendapatkan dua pelanggan dari pagi hingga siang hari. Kondisi serupa dialami oleh banyak kusir andong lainnya di Malioboro.

Dampaknya Terhadap Pendapatan

Pendapatan Aan sangat berkurang. Biasanya ia mendapatkan satu atau dua orderan dalam sehari, terkadang bahkan tidak ada sama sekali.

Hal serupa juga dialami Tri Barjo, kusir andong lainnya di Kota Jogja. Ia hanya mendapatkan dua pelanggan seharian.

Perbedaan pendapatan sangat signifikan. Lebaran tahun lalu, Tri bisa mendapatkan hingga 15 orderan, sementara tahun ini hanya sekitar lima orderan saja.

Harga Tetap, Penghasilan Menurun

Harga sewa andong di Malioboro mencapai Rp 150.000,- selama Lebaran, naik dari harga normal Rp 100.000,-. Meskipun begitu, para kusir belum berencana menurunkan harga.

Aan dan Tri masih berharap keadaan membaik dalam beberapa hari ke depan. Mereka berharap jumlah wisatawan yang menggunakan jasa andong akan meningkat.

Minimnya Peluang Meningkatkan Pendapatan

Meskipun harga tetap, penurunan jumlah pelanggan membuat pendapatan mereka tetap rendah. Mereka berharap situasi segera membaik.

Ancaman Terhadap Warisan Budaya

Andong merupakan angkutan wisata ikonik Yogyakarta dan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada 2019.

Jumlah kusir andong di Malioboro sendiri telah berkurang dalam beberapa tahun terakhir, terutama terdampak pandemi Covid-19.

Saat ini, diperkirakan terdapat sekitar 387 andong aktif di Malioboro, dengan total kusir andong di DIY mencapai 421 orang.

Menurunnya pendapatan para kusir andong ini menjadi ancaman bagi kelestarian warisan budaya Yogyakarta. Kondisi ini membutuhkan perhatian dan solusi untuk keberlanjutan usaha mereka.

Semoga ke depannya, para kusir andong dapat kembali menikmati pendapatan yang layak, sekaligus menjaga kelestarian andong sebagai bagian dari warisan budaya Yogyakarta.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *