Ole Romeny, pemain Timnas Indonesia, tengah menjadi idola baru. Dua golnya dalam dua pertandingan Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia, melawan Australia dan Bahrain, telah memikat hati para penggemar.
Namun, popularitas Romeny bukan hanya karena ketajamannya di lapangan. Kecintaannya pada Indonesia, yang terungkap melalui selebrasi dan wawancara, juga turut menyentuh banyak orang.
Kisah Cinta Romeny dengan Indonesia: Warisan Nenek dan Mimpi di Desa
Selebrasi tangan di bawah dagu usai mencetak gol ke gawang Bahrain? Itu adalah penghormatan Romeny kepada sang nenek, Helene Wilhelmina Degenaars, yang lahir di Medan, Indonesia.
Neneknya, yang telah meninggal, adalah jembatan emosional Romeny ke Indonesia. Cerita-cerita sang nenek tentang tanah kelahirannya telah menumbuhkan rasa cinta yang mendalam di hati Romeny.
Warisan Kuliner dan Cerita dari Medan
Helene, yang tumbuh besar di Medan sebelum pindah ke Belanda, kerap memasak makanan Indonesia untuk cucunya. Cerita-cerita tentang Indonesia pun selalu hadir dalam setiap kesempatan.
Rasa rindu dan kebanggaan sang nenek pada Indonesia seakan diturunkan kepada Romeny, yang mengaku tak pernah melupakan cerita-cerita tersebut.
Pertemuan Pertama dan Impiannya
Kunjungan pertamanya ke Indonesia pada November 2024 mengubah segalanya bagi Romeny. Ia langsung terpikat dengan keramahan masyarakat Indonesia.
Pengalaman bermain sepak bola dengan anak-anak di sebuah desa miskin semakin memperkuat ikatannya dengan Indonesia. Ia bermimpi menginspirasi anak-anak Indonesia melalui sepak bola.
Status Kewarganegaraan Romeny: Naturalisasi Blijver
Romeny mendapatkan kewarganegaraan Indonesia melalui naturalisasi *blijver*. Ini berarti ia menjadi WNI atas dasar kesetiaan dan ikatan emosional yang kuat dengan Indonesia.
Proses naturalisasi ini diawali dengan sumpah di KBRI London pada 8 Februari 2025. Pertimbangan khusus diberikan karena pertalian sejarah dan budaya yang kuat, meskipun tak ada darah Indonesia dalam dirinya.
Undang-Undang Kewarganegaraan dan Pengecualian
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan RI umumnya menerapkan asas *ius sanguinis*. Namun, terdapat pengecualian untuk kasus-kasus khusus, seperti Romeny.
Salah satu pertimbangannya adalah pertalian sejarah dan budaya dengan Indonesia, kontribusi positif yang diharapkan, dan keinginan kuat untuk menjadi bagian dari bangsa Indonesia.
Sepak Bola: Jembatan Budaya dan Sosial di Indonesia
Sepak bola bagi anak-anak Indonesia, seperti yang dialami Romeny, bukan sekadar permainan. Ia menjadi sarana interaksi sosial dan pengikat persatuan.
Penelitian UPI tahun 2014 menunjukkan sepak bola memperkuat ikatan sosial di kalangan anak-anak. Hal ini sejalan dengan pengalaman Romeny bermain bola dengan anak-anak di desa yang dikunjunginya.
Kisah Ole Romeny adalah bukti bahwa ikatan emosional dan kebersamaan dapat melampaui batasan geografis dan darah. Kecintaannya pada Indonesia, yang terpatri berkat warisan sang nenek dan pengalaman bermain bola di desa, menjadi inspirasi bagi banyak orang. Ia bukan hanya atlet handal, tetapi juga duta kebudayaan yang membawa pesan persatuan dan mimpi melalui sepakbola.





