Pulau Tidung, surga wisata di Kepulauan Seribu, ternyata menyimpan masalah di balik keindahan pantainya. Ekonomi yang bergantung pada pariwisata, juga menarik masuknya uang palsu.
Uang Palsu Menyerbu Pulau Tidung
Seorang teller bank terapung BRI, Rifqi Zulhimi (23), menemukan banyak uang palsu di Pulau Tidung. Pecahan Rp 100.000 paling banyak beredar.
Bahkan, bulan Maret lalu Rifqi menerima uang palsu hingga Rp 500.000. Para pelaku usaha di Pulau Tidung seringkali menjadi korban peredaran uang palsu ini.
Tugas Teller dan Reaksi Pedagang
Rifqi memiliki tugas untuk memusnahkan uang palsu yang diterimanya. Sebelum memusnahkan, ia selalu memberitahu nasabah dan meminta mereka meraba tekstur uang untuk memastikan keasliannya.
Reaksi nasabah beragam. Ada yang kecewa, tetapi ada juga yang meminta uang palsu tersebut dikembalikan, untuk dipajang sebagai contoh di tempat usahanya.
Namun, sesuai regulasi, uang palsu harus dimusnahkan di tempat. Rifqi biasanya merobek uang palsu tersebut di depan nasabah.
Dampak Negatif Pariwisata dan Peran Pemerintah
Profesor Azril Azhari, pengamat kebijakan publik pariwisata, menyebut peredaran uang palsu sebagai dampak negatif pariwisata yang tak terhindarkan. Pemerintah perlu memberikan perhatian khusus pada wisata pulau kecil seperti Kepulauan Seribu.
Pemerintah harus menghitung dampak ekonomi dari peredaran uang palsu agar kerugian tidak hanya ditanggung masyarakat setempat. Standar keamanan dan pengawasan perlu ditingkatkan.
Azril mengapresiasi inovasi bank terapung BRI. Namun, ia menyayangkan kurangnya perhatian pemerintah, khususnya Kementerian Pariwisata, terhadap wisata pulau kecil.
Ia merekomendasikan peningkatan frekuensi dan pengembangan layanan bank terapung. Hal ini penting untuk menekan peredaran uang palsu dan memberikan perlindungan kepada pelaku usaha di pulau kecil.
Perlu ditingkatkan
Selain masalah uang palsu, bank terapung juga memberikan edukasi kepada masyarakat tentang uang sobek. Uang masih dapat ditukarkan jika nomor serinya masih terlihat jelas.
Rifqi menjelaskan bahwa uang sobek dengan nomor seri yang masih jelas dapat ditukarkan di bank terapung. Layanan ini membantu masyarakat Pulau Tidung dalam mengatasi masalah uang yang rusak.
Edukasi dan Solusi Ke Depan
Keberadaan bank terapung BRI di Kepulauan Seribu memberikan dampak positif, tak hanya untuk mengatasi peredaran uang palsu, tetapi juga memberikan edukasi keuangan kepada masyarakat.
Peningkatan pengawasan dan edukasi kepada masyarakat tentang pencegahan peredaran uang palsu sangat krusial. Kolaborasi antara pemerintah, lembaga perbankan, dan masyarakat setempat sangat diperlukan untuk menciptakan ekosistem pariwisata yang sehat dan berkelanjutan di Pulau Tidung dan pulau-pulau kecil lainnya.
Dengan begitu, keindahan Pulau Tidung dapat dinikmati tanpa bayang-bayang ancaman ekonomi yang merugikan akibat peredaran uang palsu.





