Skandal Diplomatik: Prancis Deportasi 12 Pejabat Aljazair, Hubungan Memanas

Ketegangan diplomatik antara Prancis dan Aljazair meningkat tajam. Pemerintah Prancis telah memerintahkan pengusiran 12 diplomat dan pejabat konsuler Aljazair.

Eskalasi Diplomatik Prancis-Aljazair

Langkah ini merupakan balasan atas pengusiran 12 pejabat Prancis oleh pemerintah Aljazair pada Minggu lalu. Pengusiran tersebut diumumkan oleh kantor Presiden Emmanuel Macron pada Selasa (15/4).

Bacaan Lainnya

Kantor Macron menyebut tindakan Aljazair “tidak dapat dipahami dan tidak dapat dibenarkan”. Mereka meminta Aljazair untuk melanjutkan dialog dan bertanggung jawab atas memburuknya hubungan bilateral.

Penangkapan Warga Aljazair di Prancis

Perselisihan ini bermula dari penangkapan tiga warga negara Aljazair di Prancis. Penangkapan ini, termasuk seorang pejabat konsuler, terkait dugaan keterlibatan dalam penculikan seorang influencer Aljazair di Paris pada April 2024.

Jaksa penuntut Prancis mendakwa ketiga warga negara Aljazair tersebut pada Jumat (11/4). Aljazair merespon dengan mengusir sejumlah pejabat Prancis.

Hubungan yang Memburuk

Hubungan Prancis-Aljazair telah tegang sejak tahun lalu. Ketegangan meningkat setelah Prancis mengakui kedaulatan Maroko atas Sahara Barat, wilayah yang disengketakan dan didukung Aljazair.

Penahanan penulis Prancis-Aljazair, Boualem Sansal, di Aljazair atas tuduhan keamanan nasional semakin memperkeruh hubungan kedua negara. Insiden ini menambah daftar panjang perselisihan.

Upaya Perbaikan Hubungan yang Gagal

Hanya dua minggu sebelum eskalasi ini, Presiden Aljazair Abdelmadjid Tebboune dan Macron melakukan panggilan telepon untuk memperbaiki hubungan. Upaya tersebut tampaknya gagal menghasilkan hasil positif.

Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, yang baru-baru ini mengunjungi Aljazair untuk meredakan ketegangan, menyatakan bahwa Aljazair telah memilih jalur eskalasi. Upaya diplomasi sebelumnya terbukti sia-sia.

Pengusiran timbal balik ini menandai babak baru dalam hubungan Prancis-Aljazair yang sudah tegang. Masa depan hubungan bilateral kedua negara kini berada dalam ketidakpastian, menandakan perlunya diplomasi intensif untuk meredakan ketegangan yang berkembang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *