Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengambil tindakan tegas terkait masalah pelayanan Bank DKI. Ia mencopot Direktur IT Bank DKI, Amirul Wicaksono.
Pencopotan Direktur IT Bank DKI dan Tuntutan Profesionalisme
Pencopotan Amirul Wicaksono merupakan buntut dari gangguan layanan Bank DKI yang terjadi pada malam takbiran, 30 Maret 2025. Banyak nasabah yang mengeluhkan ketidakmampuan untuk bertransaksi.
Pramono Anung menekankan perlunya pengelolaan Bank DKI yang lebih profesional. Ia menegaskan tidak akan mentolerir adanya titipan dalam penunjukan direksi.
Bebas dari Titipan dan Intervensi
Dalam rapat internal, Gubernur Pramono menyatakan Bank DKI harus bebas dari intervensi dan titipan siapa pun dalam pengangkatan direksi. Pengelolaan yang profesional menjadi kunci utama.
Ia meminta agar seluruh proses di Bank DKI dikelola secara transparan dan akuntabel. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir potensi penyelewengan.
Rebranding Bank DKI dan Target IPO
Gubernur Pramono Anung juga berencana melakukan rebranding Bank DKI. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan citra dan kinerja bank tersebut.
Beberapa opsi nama baru dipertimbangkan, antara lain Bank Jakarta atau Bank Global. Tujuannya adalah untuk meningkatkan daya saing Bank DKI di kancah nasional maupun internasional.
Target Masuk Bursa Saham
Pramono Anung bahkan menargetkan Bank DKI untuk melakukan Initial Public Offering (IPO) atau penawaran saham perdana. Targetnya adalah maksimal enam bulan.
Keberhasilan IPO diharapkan dapat meningkatkan transparansi dan akuntabilitas Bank DKI serta mendapatkan pendanaan lebih besar untuk pengembangan.
Anjloknya Peringkat Jakarta dan Perbaikan Layanan
Penurunan peringkat Jakarta dalam daftar kota global terbaik menjadi perhatian serius Gubernur. Peringkat Jakarta turun dari 74 menjadi 54.
Salah satu faktor yang menjadi penyebab penurunan tersebut adalah masalah berulang di sektor perbankan, termasuk di Bank DKI. Pembenahan menyeluruh dinilai krusial.
Kasus gangguan layanan Bank DKI ini menjadi momentum untuk melakukan perubahan signifikan. Pramono Anung berharap ini menjadi pembelajaran berharga agar kejadian serupa tidak terulang. Ia berkomitmen untuk membangun kembali kepercayaan publik terhadap Bank DKI dan Pemprov DKI Jakarta secara keseluruhan.





