Sebuah kasus dugaan pelecehan seksual terhadap siswi SMP di Depok, Jawa Barat, tengah menjadi sorotan. Oknum guru di sekolah tersebut diduga melakukan pelecehan verbal, menanyakan siklus menstruasi korban. Peristiwa ini viral setelah rekaman percakapan tersebar di media sosial.
Polisi telah menerima laporan dari korban yang didampingi ibunya. Proses penyelidikan sedang berlangsung, termasuk pemanggilan saksi dan pengambilan keterangan korban.
Dugaan Pelecehan Seksual oleh Oknum Guru SMP Depok
Kejadian pelecehan ini terjadi pada Maret 2025 saat kegiatan pesantren kilat. Awalnya, pelaku terlihat mengobrol biasa dengan korban.
Namun, percakapan berlanjut dengan ucapan-ucapan tidak senonoh dan tindakan lain yang membuat korban merasa tidak nyaman. Korban juga telah menjalani visum.
Pihak kepolisian menduga jumlah korban lebih dari satu orang. Polisi menghimbau jika ada korban lain agar segera melapor ke Polres Metro Depok.
Disebutkan bahwa terdapat sekitar tujuh orang korban yang diduga mengalami pelecehan serupa.
Oknum Guru Dinonaktifkan dan Proses Hukum Berjalan
Menanggapi kasus ini, Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok, Siti Chaerijah, menyampaikan keprihatinan dan permohonan maaf. Pihaknya menegaskan tidak mentolerir kekerasan dan pelecehan di lingkungan pendidikan.
Oknum guru yang bersangkutan telah dinonaktifkan dari kegiatan belajar mengajar. Proses pemeriksaan lebih lanjut sedang dilakukan secara objektif dan menyeluruh.
Pendampingan Psikologis dan Evaluasi Sistem Pendidikan
Selain penonaktifan guru, Dinas Pendidikan Depok juga memberikan pendampingan psikologis kepada korban. Hal ini dilakukan melalui UPTD-PPA Dinas Pemberdayaan Perlindungan Perempuan dan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Depok.
Siti Chaerijah menambahkan, akan dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pembinaan guru, pengawasan internal sekolah, dan edukasi perlindungan kepada siswa. Tujuannya untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan bebas dari kekerasan.
Evaluasi ini mencakup berbagai aspek, mulai dari pelatihan guru hingga peningkatan pengawasan di sekolah. Peningkatan edukasi dan perlindungan bagi siswa juga menjadi fokus utama.
Pihak Dinas Pendidikan berkomitmen untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan sehat bagi seluruh siswa.
Kasus ini menyoroti pentingnya perlindungan anak di lingkungan pendidikan dan perlunya mekanisme pengawasan yang lebih ketat untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali. Semoga proses hukum berjalan lancar dan memberikan keadilan bagi para korban.





