Politikus PDI-P, Guntur Romli, memberikan tanggapan mengenai momen pertemuan Ketua Umumnya, Megawati Soekarnoputri, dengan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Pertemuan tersebut terjadi saat keduanya menghadiri perayaan ulang tahun ke-100 Mery Hoegeng, istri mendiang Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso, di Depok, Jawa Barat, Senin (23/6).
Guntur Romli, atau Gunrom, menilai gestur Kapolri yang mencium tangan Megawati sebagai wajar. Ia menganggapnya sebagai bentuk sopan santun dan adab ketimuran, mengingat Megawati sebagai figur orang tua dan Presiden RI kelima. Ia mencontohkan, Presiden Jokowi pun sering mencium tangan Megawati.
“Wajar, cium tangan kepada orang tua, Ibu Megawati tidak hanya seperti ibu kita sendiri, juga Ibu Bangsa dan Presiden RI ke-5. Pak Jokowi dulu juga sering cium tangan Ibu Megawati. Sopan santun dan adab ketimuran,” ujar Guntur Romli.
Namun, Guntur enggan berkomentar lebih lanjut mengenai hubungan PDI-P dan Kapolri pasca pertemuan tersebut. Hubungan kedua pihak memang sempat tegang, terutama setelah munculnya kritik dari PDI-P terhadap kinerja Polri menjelang Pemilu dan Pilpres 2024.
Guntur menjelaskan bahwa kritik PDI-P dan Megawati kepada Kapolri dilatarbelakangi rasa sayang dan perhatian. PDI-P memandang Polri sebagai lembaga penting yang didirikan saat Megawati menjabat sebagai Presiden, dengan memisahkan Polri dari ABRI.
“Kritik Ibu Megawati ke polisi kan juga dasarnya sayang karena beliau waktu jadi Presiden yang memisahkan Polri dari ABRI,” tegas Guntur.
Guntur mengaku tidak mengetahui isi percakapan antara Megawati dan Sigit. Ia menekankan bahwa kehadiran Megawati di kediaman Mery Hoegeng semata-mata untuk menjalin silaturahmi.
Hubungan dekat antara keluarga Megawati dan mendiang Jenderal Hoegeng menjadi latar belakang kunjungan tersebut. Megawati dan ayahnya, Bung Karno, dikenal memiliki hubungan yang erat dengan Hoegeng, yang dianggap sebagai Kapolri yang patut diteladani.
“Bagaimana Pak Hoegeng itu sebagai Kapolri panutan, dan beliau dan keluarganya sangat dekat dengan Bung Karno dan Ibu Megawati Soekarnoputri,” kata Guntur menjelaskan hubungan tersebut.
Dalam pertemuan tersebut, Kapolri Sigit terlihat menunggu kedatangan Megawati di depan rumah Mery. Megawati datang bersama putrinya, Puan Maharani, Ketua DPR RI. Pertemuan ini merupakan bagian dari tradisi rutin menjelang Hari Bhayangkara yang jatuh setiap tanggal 1 Juli.
Pertemuan ini menarik perhatian publik karena sejarah hubungan yang dinamis antara PDI-P dan Kepolisian. Menarik untuk melihat bagaimana dinamika politik ini akan berkembang ke depannya, terutama menjelang Pemilu 2024. Meskipun Guntur enggan berkomentar lebih jauh, pertemuan ini setidaknya menunjukkan adanya upaya komunikasi dan silaturahmi di antara kedua pihak.
Sebagai tambahan, perlu diingat bahwa konteks politik Indonesia yang kompleks seringkali mewarnai hubungan antar lembaga negara. Analisis lebih dalam diperlukan untuk memahami implikasi pertemuan ini terhadap peta politik menjelang Pemilu 2024.
Momen pertemuan ini juga dapat dilihat sebagai upaya membangun citra positif bagi kedua belah pihak. Baik PDI-P maupun Polri memiliki kepentingan untuk menjaga hubungan yang kondusif di tengah dinamika politik yang semakin memanas.





