Ancaman Penutupan Selat Hormuz: Harga Minyak Dunia Melambung ke US$110

Ancaman Penutupan Selat Hormuz: Harga Minyak Dunia Melambung ke US$110
Sumber: CNNIndonesia.com

Goldman Sachs memprediksi lonjakan harga minyak dunia hingga US$110 per barel jika Selat Hormuz ditutup oleh Iran. Selat Hormuz merupakan jalur vital ekspor minyak dunia, dan penutupan jalur ini akan berdampak sangat signifikan terhadap pasar global.

Negara-negara penghasil minyak utama seperti Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk mendistribusikan minyak mentah mereka ke pasar Asia, Eropa, dan Amerika. Gangguan pada jalur ini akan menyebabkan krisis pasokan minyak global yang serius.

Bacaan Lainnya

Berdasarkan riset Goldman Sachs pada 22 Juni 2024, harga minyak mentah Brent berpotensi melonjak hingga US$110 per barel jika distribusi minyak melalui Selat Hormuz terganggu. Setelah periode gangguan tersebut, bank investasi ini memperkirakan harga Brent akan stabil di kisaran US$95 per barel pada kuartal keempat tahun 2025.

Lonjakan harga minyak dunia ke level tertinggi sejak Januari 2024 dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik, terutama terkait serangan AS ke fasilitas nuklir Iran. Meskipun belum dieksekusi, parlemen Iran telah menyetujui kemungkinan penutupan Selat Hormuz, yang akan memengaruhi 52 persen pasokan minyak dunia.

Skenario Penurunan Produksi Minyak Iran

Goldman Sachs juga mensimulasikan skenario penurunan produksi minyak Iran sebesar 1,75 juta barel per hari (bpd) selama enam bulan. Dalam skenario ini, harga Brent diperkirakan mencapai puncaknya di kisaran US$90 per barel.

Jika penurunan produksi tersebut berlanjut lebih lama, harga Brent diprediksi akan tetap berada di kisaran US$70-US$80 per barel pada tahun berikutnya. Ini menunjukkan dampak jangka panjang yang signifikan dari setiap gangguan pasokan minyak yang berasal dari Iran.

Pertimbangan Faktor Ekonomi dan Geopolitik

Goldman Sachs mencatat bahwa meskipun situasi di Timur Tengah tetap dinamis, insentif ekonomi dari negara-negara besar seperti AS dan China untuk mencegah gangguan besar dan berkepanjangan di Selat Hormuz dapat memainkan peran penting dalam meredam lonjakan harga minyak.

Pernyataan Goldman Sachs: “Meski situasi di Timur Tengah terus berkembang, kami percaya insentif ekonomi, termasuk dari AS dan China untuk mencegah gangguan besar dan berkepanjangan di Selat Hormuz akan sangat membantu.”

Dampak pada Pasar Gas Alam

Selain minyak, Goldman Sachs juga memprediksi dampak pada pasar gas alam Eropa. Indeks acuan TTF berpotensi naik mendekati 74 euro per megawatt-jam (setara US$25 per MMBtu).

Namun, Goldman Sachs memperkirakan harga gas alam di Amerika Serikat akan tetap stabil karena kapasitas ekspor yang kuat dan rendahnya kebutuhan impor LNG domestik. Ini menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam dinamika pasar gas alam antara Eropa dan Amerika Serikat.

Secara keseluruhan, prediksi Goldman Sachs menyoroti kerentanan pasar energi global terhadap ketidakstabilan geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait Selat Hormuz. Penutupan Selat Hormuz atau penurunan produksi minyak Iran berpotensi menimbulkan dampak ekonomi yang luas dan signifikan, baik pada harga minyak maupun gas alam di berbagai belahan dunia.

Penting untuk dicatat bahwa prediksi ini didasarkan pada analisis dan asumsi tertentu, dan situasi aktual dapat berbeda. Faktor-faktor lain yang tidak terduga juga dapat memengaruhi harga minyak dan gas alam di masa mendatang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *