Stroke Usia 39? Gejala Mengejutkan Saat Bangun Tidur! Kisah Nyata Ini Mencekam

Krista Figari, seorang wanita berusia 39 tahun di Manhattan, New York, mengalami stroke saat tidur. Ia merasakan gejala di pagi hari saat bangun.

Kejadian ini bermula ketika Figari terjatuh dari tempat tidur ke lantai. Ia tak mampu menggerakkan lengan dan kaki.

Bacaan Lainnya

Karena kesulitan bangun, Figari menghubungi sepupunya untuk meminta bantuan. Ia juga menghubungi atasan dan layanan darurat 911.

Stroke Tak Terduga di Usia Muda

Asisten rumah Figari tidak memiliki akses masuk. Atasannya akhirnya masuk melalui jendela menggunakan tangga darurat.

Atasan Figari membantu petugas medis memasuki rumah. Saat itulah Figari menyadari dirinya mengalami stroke.

Figari mengaku terkejut. Ia menganggap stroke sebagai penyakit orang tua.

Perawatan Medis Cepat Tanggap

Di rumah sakit, tim medis memastikan Figari mengalami stroke baru-baru ini. Ia segera mendapatkan perawatan trombolisis untuk melarutkan gumpalan darah.

Dokter ahli saraf, Dr. Nicholas Janocko, menjelaskan pentingnya kecepatan penanganan. Perawatan trombolisis sangat krusial untuk mencegah kecacatan permanen.

Berkat penanganan cepat, Figari pulih dalam waktu kurang dari 15 menit. Ia hanya dirawat selama lima hari dan tak membutuhkan terapi fisik tambahan.

Penyebab Stroke: Patent Foramen Ovale (PFO)

Namun, dokter menemukan kabar kurang baik. Figari memiliki kondisi jantung bawaan yang disebut patent foramen ovale (PFO).

PFO merupakan kondisi di mana lubang di antara ruang atas jantung tetap terbuka setelah lahir. Kondisi ini meningkatkan risiko stroke.

Sekitar 25% orang dewasa memiliki PFO, dan kebanyakan tanpa gejala. Figari termasuk dalam kelompok ini.

PFO dan Risikonya

Dr. Janocko menjelaskan peran PFO dalam stroke pada pasien di bawah 60 tahun. Lubang tersebut memungkinkan gumpalan darah mencapai otak.

Figari memiliki PFO tingkat 4 dari skala 0-5, menunjukkan ukuran lubang yang cukup besar.

Pada Juli, Figari menjalani prosedur untuk menutup lubang tersebut. Sebuah alat kecil dipasang di jantungnya.

Pemulihan dan Pencegahan

Setahun kemudian, Figari kembali berolahraga, meskipun sisi kirinya masih terasa lemah. Ia mengalami kesulitan menulis dan mengetik.

Untuk mencegah stroke berulang, Figari mengonsumsi aspirin dan mengambil langkah-langkah pencegahan. Keluarganya kini memiliki kunci apartemennya.

Pengalaman ini mendorong Figari untuk mengingatkan orang lain tentang pentingnya bertindak cepat saat muncul gejala stroke. Penanganan cepat sangat krusial untuk meminimalisir dampak jangka panjang.

Kisah Figari menjadi pengingat pentingnya kesadaran akan stroke, terutama pada usia muda. Deteksi dini dan penanganan segera sangat penting untuk mencegah kecacatan permanen dan meningkatkan peluang pemulihan yang optimal.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *