Sakit tenggorokan disertai luka atau sariawan? Kondisi ini, yang secara medis disebut ulkus tenggorokan, merupakan luka terbuka di bagian belakang tenggorokan, esofagus, atau kotak suara. Penyebabnya beragam, mulai dari cedera hingga infeksi.
Ulkus tenggorokan biasanya berupa luka kecil bulat, berwarna putih di tengah dan kemerahan di sekitarnya. Gejalanya meliputi rasa sakit dan ketidaknyamanan saat menelan atau berbicara. Dalam beberapa kasus, demam, malaise, dan pembengkakan kelenjar getah bening di leher juga dapat terjadi.
Berbagai Penyebab Sariawan di Tenggorokan
Sariawan di tenggorokan bisa menjadi indikasi berbagai kondisi medis. Memahami penyebabnya penting untuk menentukan pengobatan yang tepat.
Beberapa penyebab umum meliputi infeksi virus seperti herpes, bakteri, jamur, hingga kondisi medis kronis seperti lupus atau bahkan dampak dari obat-obatan tertentu.
Infeksi dan Kondisi Medis yang Berkaitan dengan Ulkus Tenggorokan
Beberapa infeksi dapat menyebabkan sariawan di tenggorokan. Herpes simpleks, misalnya, dapat menyebabkan ulkus yang menyakitkan di tenggorokan, lidah, atau bagian atas mulut, selain lepuh khas di sekitar bibir.
COVID-19 juga termasuk dalam daftar penyebab potensial, meskipun keterkaitannya masih diteliti. Beberapa studi menunjukkan hubungan antara COVID-19 dan sariawan di mulut atau tenggorokan, kemungkinan karena peradangan dan efek langsung virus pada mukosa mulut.
Stomatitis aftosa, meskipun penyebab pastinya belum diketahui, seringkali dikaitkan dengan stres, menstruasi, atau kekurangan nutrisi seperti zat besi dan vitamin B12. Alergi terhadap pasta gigi atau makanan tertentu juga bisa menjadi pemicunya.
Lupus eritematosus sistemik (SLE) merupakan penyakit autoimun yang dapat menyebabkan ulkus di tenggorokan, lidah, langit-langit mulut, atau bibir. Gejala lain yang menyertainya meliputi penurunan berat badan, perubahan suasana hati, dan nyeri sendi. Hingga sepertiga pasien lupus dilaporkan mengalami keterlibatan tenggorokan dan laring.
Infeksi HIV, jika tidak tertangani dengan baik, dapat menyebabkan sariawan di tenggorokan yang besar, nyeri, dan sulit sembuh. Ini karena melemahnya sistem imun tubuh.
Terakhir, kanker mulut dapat menimbulkan ulkus di tenggorokan yang sulit sembuh. Gejala lain yang perlu diwaspadai adalah kesulitan menelan, suara serak, penurunan berat badan, dan pembengkakan kelenjar getah bening di leher.
Pengaruh Obat-obatan dan Perawatan Ulkus Tenggorokan
Beberapa obat-obatan, terutama antiinflamasi nonsteroid (NSAID) seperti naproxen, antihipertensi seperti losartan, dan obat kemoterapi, dapat menyebabkan ulkus tenggorokan sebagai efek samping.
Penggunaan obat-obatan tersebut harus selalu di bawah pengawasan dokter. Jika sariawan di tenggorokan muncul setelah mengonsumsi obat baru, segera konsultasikan dengan dokter untuk mengevaluasi dosis atau mencari alternatif pengobatan.
Perawatan ulkus tenggorokan bervariasi tergantung penyebabnya. Stomatitis aftosa, misalnya, seringkali sembuh sendiri. Sementara itu, herpes, COVID-19, atau infeksi HIV mungkin memerlukan pengobatan antivirus. Lupus membutuhkan penanganan penyakit autoimun secara keseluruhan, termasuk kortikosteroid dan obat antimalaria. Kanker mulut memerlukan penanganan yang lebih intensif, seperti pembedahan, radiasi, dan kemoterapi.
Untuk ulkus tenggorokan yang disebabkan oleh iritasi ringan, mengonsumsi makanan lunak dan menghindari makanan yang keras atau asam dapat membantu meredakan gejala.
- Obat kumur analgesik dapat membantu mengurangi rasa sakit.
- Kompres dingin juga dapat memberikan efek menenangkan.
Penting untuk selalu berkonsultasi dengan dokter jika sariawan di tenggorokan tidak kunjung sembuh dalam beberapa hari, atau jika disertai gejala lain seperti demam, kesulitan menelan atau bernapas, atau batuk darah. Diagnosis dan pengobatan yang tepat sangat penting untuk memastikan pemulihan yang cepat dan mencegah komplikasi.
Secara umum, penanganan sariawan di tenggorokan bergantung pada penyebab yang mendasarinya. Oleh karena itu, konsultasi dengan tenaga medis sangat dianjurkan untuk mendapatkan diagnosis dan rencana pengobatan yang tepat dan terarah.





