Akselerasi Industri Indonesia: CTIS Dorong Teknologi Tinggi dari Nol

Akselerasi Industri Indonesia: CTIS Dorong Teknologi Tinggi dari Nol
Akselerasi Industri Indonesia: CTIS Dorong Teknologi Tinggi dari Nol

Indonesia membutuhkan dorongan signifikan dalam sektor manufaktur untuk mencapai status negara maju pada tahun 2045. Hal ini memerlukan strategi komprehensif dan rencana aksi yang terukur, baik jangka pendek maupun panjang, dengan fokus utama pada peningkatan kandungan teknologi dalam negeri. Sebuah diskusi yang diselenggarakan oleh Center for Technology & Innovation Studies (CTIS) baru-baru ini menyoroti urgensi hal ini.

Tantangan dan Potensi Manufaktur Indonesia

Sumbangsih sektor manufaktur Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih tergolong rendah. Data Bank Dunia, BPS, dan Bappenas menunjukkan angka tersebut baru mencapai 18% pada tahun 2024. Untuk menjadi negara maju, target minimal adalah 28% kontribusi dari sektor manufaktur terhadap PDB.

Bacaan Lainnya

Ir. Agus Tjahajana Wirakusumah, MSc., alumnus ITB dan pendiri Industrial System Engineering Development Center (ISEDC), menyatakan bahwa Indonesia memiliki potensi besar. Namun, diperlukan langkah-langkah nyata untuk merealisasikan potensi tersebut.

Agus, yang juga mantan Dirjen dan Sekjen di Kementerian Perindustrian, membandingkan posisi Indonesia dengan Korea Selatan dan Tiongkok. Pada tahun 1990, Indonesia berada di peringkat 18, Korea Selatan di peringkat 16, dan Tiongkok di peringkat 8 dalam hal industri manufaktur berbasis data Bank Dunia.

Perbandingan pada tahun 2023 menunjukkan Indonesia di peringkat 10, Korea Selatan di peringkat 6, dan Tiongkok di peringkat 1. Perbedaan pendapatan per kapita antara Korea Selatan dan Indonesia juga sangat signifikan, mencerminkan pentingnya peran sektor manufaktur dalam pertumbuhan ekonomi.

Strategi Jangka Pendek dan Panjang untuk Penguatan Manufaktur

Agus menyarankan peningkatan bertahap industri manufaktur dari teknologi rendah ke menengah dan tinggi. Industri berteknologi menengah dan tinggi memiliki nilai tambah yang lebih besar.

Enam industri utama di Indonesia berkontribusi hingga 70% terhadap PDB sektor industri. Namun, perlu diperhatikan bahwa industri tekstil, meskipun hanya menyumbang 5,2%, menyerap banyak tenaga kerja. Penutupan pabrik tekstil berdampak signifikan terhadap pengangguran.

Langkah Jangka Pendek: Revitalisasi Industri Lesu

Sebagai langkah awal, Agus mengusulkan revitalisasi delapan industri yang sedang lesu, antara lain permesinan dan komponen, obat-obatan, perikanan dan agroindustri, elektronika, alas kaki, barang kayu dan furnitur, pengolahan tembakau, dan tekstil.

Pemerintah juga didorong untuk meningkatkan penegakan hukum terhadap impor ilegal, menetapkan pelabuhan khusus untuk impor, dan mempercepat penerapan instrumen trade remedy WTO seperti anti-dumping, countervailing duties, dan safeguards.

Langkah Jangka Panjang: Peningkatan Teknologi dan Penguatan Ekspor

Langkah jangka panjang meliputi peningkatan teknologi pada industri berteknologi rendah, seperti makanan dan minuman, alas kaki, kertas, dan kayu, menjadi industri berteknologi menengah hingga tinggi.

Dukungan regulasi yang konsisten sangat penting, seperti yang terlihat pada keberhasilan pengembangan industri otomotif Indonesia. Pengenaan pajak tinggi pada kendaraan impor di masa lalu mendorong peningkatan TKDN hingga mendekati 80% dan ekspor kendaraan hingga 505.134 unit pada tahun 2023.

Peningkatan insentif pajak dan non-pajak untuk eksportir juga krusial. Indonesia perlu meningkatkan tarif bea masuk impor untuk melindungi industri dalam negeri, seperti yang dilakukan negara-negara lain.

Pemanfaatan Free Trade Agreement (FTA) juga perlu dioptimalkan. Defisit perdagangan dengan beberapa negara mitra FTA menunjukkan perlunya strategi yang lebih efektif untuk meningkatkan ekspor produk manufaktur.

Kesimpulan dan Harapan

Percepatan kemajuan industri manufaktur di Indonesia merupakan kunci untuk mencapai status negara maju di tahun 2045. Strategi yang komprehensif, melibatkan revitalisasi industri yang lesu, peningkatan teknologi, dan penguatan ekspor, sangat dibutuhkan. Pemerintah dan sektor swasta harus berkolaborasi untuk memastikan terwujudnya visi ini. Keberhasilan Indonesia dalam memaksimalkan potensi sektor manufaktur tidak hanya akan meningkatkan PDB, tetapi juga menciptakan lapangan kerja yang lebih banyak dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Perlu diingat bahwa keberhasilan Korea Selatan dalam membangun ekonomi berbasis manufaktur dapat menjadi inspirasi dan pelajaran berharga bagi Indonesia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *