Kabupaten Sleman, Yogyakarta, mengalami lonjakan jumlah wisatawan selama libur Lebaran 2025. Namun, fenomena menarik terjadi: tingkat hunian hotel justru tak sebanding.
Okupansi Hotel Sleman di Bawah Ekspektasi
Kepala Dinas Pariwisata Sleman, Ishadi Zayid, mengungkapkan tingkat hunian hotel rata-rata hanya 60% selama periode 21 Maret hingga 7 April 2025.
Angka ini lebih rendah dari prediksi awal yang berkisar antara 30-60%, menunjukkan adanya penurunan dibandingkan Lebaran tahun lalu.
Dampak Melemahnya Daya Beli Masyarakat
Ishadi Zayid menduga penurunan okupansi hotel ini terkait dengan kondisi ekonomi masyarakat.
Banyaknya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) membuat daya beli masyarakat menurun, sehingga banyak yang memilih berwisata tanpa menginap di hotel.
Perbandingan dengan Liburan Lebaran Tahun Lalu
Dibandingkan Lebaran 2024, okupansi hotel di Sleman mengalami penurunan hingga 10 persen.
Hal ini menunjukkan dampak signifikan dari faktor ekonomi terhadap sektor pariwisata di Sleman.
Kunjungan Wisatawan Tetap Tinggi
Meskipun okupansi hotel rendah, jumlah kunjungan wisatawan ke Sleman masih tinggi, terutama sejak H+2 Lebaran.
Destinasi andalan seperti Kaliurang, Kaliadem, dan tur lava mengalami peningkatan jumlah pengunjung yang signifikan.
Destinasi Wisata Primadona di Sleman
Candi Prambanan tetap menjadi primadona, disusul Kaliurang, Kaliadem, serta aktivitas wisata jip dan Ibarbo.
Data menunjukan sekitar 2.000 pengunjung per hari di Kaliadem dan 4.000 pengunjung di Kaliurang.
Jumlah Pengunjung Menyamai Lebaran Tahun Lalu
Peningkatan jumlah wisatawan mulai terlihat signifikan sejak H+2 Lebaran.
Jumlah wisatawan selama Lebaran 2025 hampir sama dengan jumlah wisatawan selama Lebaran 2024.
Kesimpulan: Tantangan dan Peluang Pariwisata Sleman
Meskipun kunjungan wisatawan ke Sleman tetap tinggi, rendahnya okupansi hotel menunjukkan tantangan yang dihadapi sektor perhotelan akibat melemahnya daya beli masyarakat. Pemerintah daerah perlu memperhatikan hal ini dan mengembangkan strategi untuk meningkatkan daya tarik sektor pariwisata agar tetap berkelanjutan.
Strategi ini dapat berupa paket wisata yang lebih terjangkau, promosi yang lebih gencar, atau diversifikasi produk wisata agar dapat menarik minat wisatawan dengan berbagai daya beli.





