Lebaran di Malioboro: Pedagang Hantu Raup Untung Besar!

Yogyakarta, kota budaya yang terkenal dengan keindahannya, ramai dikunjungi wisatawan saat libur Lebaran. Malioboro, jantung kota Yogyakarta, menjadi destinasi utama para pemudik yang sekaligus berwisata.

Para pelaku usaha wisata pun merasakan dampak positifnya. Salah satu contohnya adalah para “hantu” Malioboro yang menawarkan jasa foto bersama kepada wisatawan.

Bacaan Lainnya

Hantu Wewe Gombel Malioboro: Rezeki di Balik Seram

Basir, seorang warga Semanu, Gunungkidul, adalah salah satu “hantu” yang mencari nafkah di Malioboro. Ia mengenakan kostum Wewe Gombel yang menyeramkan, lengkap dengan riasan “darah” yang menambah kesan horor.

Penampilannya yang menakutkan justru menarik minat wisatawan untuk berfoto bersama. Mereka penasaran dan menganggapnya sebagai daya tarik unik Malioboro.

Proses Persiapan Menjadi “Hantu”

Basir berangkat dari rumah dengan pakaian biasa. Ia baru berganti kostum di sekitar Malioboro, prosesnya memakan waktu sekitar setengah jam.

Kostum dan riasan Wewe Gombel tersebut merupakan miliknya sendiri. Ia menyiapkan semuanya sebelum memulai “kerja”.

Tantangan dan Keuntungan Menjadi “Hantu”

Meski kostum Wewe Gombel membuatnya gerah, bahkan sampai tidak menggunakan kaos dalam, Basir tetap semangat. Ia rela berkeringat demi mendapatkan penghasilan.

Penghasilannya terbilang lumayan, terutama saat musim liburan seperti Lebaran. Pendapatannya per hari bisa mencapai Rp 500.000, meskipun ia tidak mematok tarif tetap.

Pengalaman Wisatawan: Antara Takut dan Kagum

Rindi, seorang perantau di Surabaya yang sedang mudik ke Sleman, mengungkapkan pengalamannya berfoto dengan “hantu” Malioboro.

Awalnya ia merasa takut melihat penampilan Basir yang menyeramkan. Namun, melihat antusiasme anak-anak yang ingin berfoto, ia pun ikut bergabung.

Malioboro: Lebih dari Sekedar Jalan Bersejarah

Rindi mengapresiasi kreativitas warga Yogyakarta. Ia menilai penampilan para “hantu” Malioboro menambah daya tarik wisata di kota tersebut.

Kehadiran para “hantu” ini memberikan pengalaman unik bagi wisatawan, menambah koleksi foto mereka dengan latar belakang yang tidak biasa.

Dampak Positif bagi Pariwisata Yogyakarta

Keberadaan “hantu-hantu” Malioboro menjadi bukti kreativitas warga Yogyakarta dalam memanfaatkan potensi wisata. Hal ini juga menunjukkan daya tarik Malioboro yang tak lekang oleh waktu.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana sebuah ide unik dapat meningkatkan daya tarik wisata dan memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat sekitar.

Cerita Basir dan Rindi menggambarkan bagaimana kreativitas dan keberanian dapat menghasilkan peluang ekonomi di tengah ramainya wisatawan di Malioboro. Keunikan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi Yogyakarta.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *